Selasa, 19 September 2017

Muhasabah

Langkah kaki mulai bertapak
Di bayang hidup nestapa
Beribu ronta kuteriakkan
Seberapakah dosaku Tuhan?
Malam terasa sunyi senyap
Aku terhampar di setiap jengkal sajadah yang terhampar
Bertemu dengan-Mu raga ini berubah menjadi pemalu
Tanya hatiku, seberat apa amalku?

-UNN. 19 Sept '17. Purbalingga-

Senin, 05 Juni 2017

Serumit Sebuah Simpul

Roda kuputar berlawan arah
Tak semudah yang kukira
Rasa itu tetap singgah
Meski masa telah berubah
Ahh...degup jantung itu tetap terdengar
Nafas itu masih menghampiri
Bayangan itu kian menepi
Memasuki alam bawah sadarku kini
Berjuta rasa lain kutanyakan
Mengapa satu rasa itu datang sedang lainnya menghilang?

Kutatap cermin berdebu
Jemariku mulai merabanya
Lusuh terasa seketika kutiup
Bayangan itu muncul dalam cermin kerinduan
Sesosok raja hatiku tampak merintih
Seulas kisah kita terekam kembali
Memori itu mengecam kembali
Saat hati ini menciut
Saat hati ini penuh penyesalan
Saat hati ini tak berdaya

Terulang kembali...
Seketika kafan membalut tubuh sang raja
Lisanku kelu ragaku kaku
Timbunan air mata mendesakku ingin keluar
Aku tak sanggup lagi merasakan semua itu
Ingin rasanya kugantikan tubuhnya dengan tubuhku
Agar simpul senyum itu terurai lagi
Agar belaian itu terasa lagi
Agar petuah itu terucap lagi

Kuawali takbirotul Ikhrom
Kuakhiri salam
Bisikan dzikir ini selalu ada
Setelah mata ini memandangnya
Wajah berseri tersenyum bak jiwa pemberani
Mengingatkanku dalam sebuah petuah bijak
"Hidupilah hidup, jangan mau diperbudak hidup"

-UNN 06.06.17-

Kejadian di atas terjadi 2 tahun silam, Sabtu, 13 Juni 2015. Puisi di atas kupersembahkan untuk Raja Hatiku yang kini telah tersenyum di alam keabadian. Semoga Allah selalu melindunginya. Jujur, aku selalu merindukannya.

Senin, 20 Februari 2017

Coretan Malam

Aku. Sebulir insan dalam rangkakan kesunyian. Menangkap balutan senja cakrawala. Langkah awal tertetes air hujan. Lanjut melangkah bersama kerikil kecil yang tajam. Ah, sakit rasanya. Kutemui seekor kuda meringkik keras tanda akan melaju. Tunggangi kuda tanpa ragu melewati hutan belantara.  Kudapati serigala hitam mengejar kudaku. Aha!  Aku ingat. Panahku menancap tepat di kakinya. Jalan semakin terjal. Kudaku meringkih kesakitan. Kini aku berkelana sendiri. Kulihat sungai membentang di depanku. Aku bersiap. Kuselami sungai demi mencapai impianku. Istana impianku. Istana kehidupan abadi. Istana Tuhan Sang Pencipta alam semesta.

-Purbalingga,  UNN-

Sabtu, 06 September 2014

Penjaraku Istanaku

Hai, sobat! Apa kabarnya nih? Tau gak sih, sekarang aku berada di tempat yang mungkin sebagian orang berfikir berbeda denganku. Inilah penjara suci. Penjara tempat dimana anak-anak menimba ilmu agama dan ilmu umum. Semua seimbang. Bisa jadi ini kali kedua aku menempati penjara suci. Ya, memang! Dulu, aku pernah menjejaki tanah Jawa bagian timur, tepatnya di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada yang tau kah? Ya benar, Ngawi lebih tepatnya. Pasti tau kan dimana tempatnya? Mantingan!
Disanalah pengalaman pertamaku berada di penjara suci. Penjara suci yang mungkin bisa dikatakan ketat. Hari-harinya sibuuukkk terus. Bagaimana tidak? Dari mulai bangun pagi sampai tidur malam dipenuhi dengan kegiatan yang cukup melelahkan. Sulit untuk menemukan waktu luang.
Dan ini ceritaku sekarang. Sekarang aku berada di tempat di pinggir Jalan Raya Secang. apa itu? Tepatnya di Kubah Emas alias Islamic Boarding School of Assalaam ..(hehehe....)
Ya, masih sama seperti dulu. Hanya saja sedikit berbeda anaknya juga fasilitasnya.
Dari bangun tidur sampai tidur lagi nggak ada kata nggak ngantri. Mau mandi ngantri, jajan ngantri, makan ngantri, dan semuanya serba ngantri. Tidurnya malam, banyak kegiatan, mufrodzat lah, muhadhoroh lah, tapaksuci lah, conversation lah, tausiyah lah, senam pagi lah, pramuka lah, kayak dikejar-kejar waktu terus. Jadi aku harus benar-benar membagi waktuku dengan baik. Tapi, ada asyiknya lho! Teman kita bertambah banyak, kebersamaan menjadi kan semuanya ringan. Inilah ceritaku, apa ceritamu?

Kamis, 04 September 2014

Pilu

Indah betapa 
Syahdu terasa yg berlalu 
Pilu menyisa mengalunkan tangis 
Kini sendiri di puing-puing kehancuran 

Lagu berubah menjadi sedih 
Melayu mendayu kembali merayu 
Semenjak kehilangan paru 
Dimana perhatian itu kini? 

Bayang-bayang tinggal menghiasi 
Hilang sudah pelangi panjang membentang 
Rasa sekejap saja 
Hati ini bagai di jemput di bawa ke neraka 

Apa yg menelusuri dadamu 
Tinggallah jiwa ini dlm kegelapan 
Prahara datang, engkau hilang tanpa jejak 
Hanya kenangan dan air mata

Minggu, 30 Desember 2012

Sinopsis Novel Negeri 5 Menara


Pertengahan tahun 1988 Alif akan lulus SMP. Bersama sahabatnya, Randai, mereka berharap bisa masuk SMA terkenal di Bukit Tinggi, lalu lanjut kuliah di ITB. Namun Amaknya menginginkan Alif untuk masuk ke Pondok Madani, sebuah pesantren di sudut Ponorogo, Jawa Timur. Alif memberontak tapi akhirnya memenuhi pinta orangtuanya walau setengah hati.

Ketika tiba di Pondok Madani, dilihatnya tempat itu ‘kampungan’ dan mirip penjara karena peraturan yang ketat dan keharusan ikut kelas adaptasi setahun. Alif sering menyendiri. Seiring berjalannya waktu, Alif mulai bersahabat dengan teman-teman satu kamarnya, yaitu Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Madura. Mereka berenam selalu berkumpul di menara masjid dan menamakan diri mereka Sahibul Menara alias para pemilik menara.

Suasana kian menghangat di kelas pertama, saat Alif disentak oleh teriakan penuh semangat dari sang Ustadz: Man Jadda Wajada! Arti kata itu adalah: Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. “Mantra” ini lah yang menambah motivasi keenam anak itu bermimpi. Suatu sore, para Sahibul menara menatap awan dan bercita-cita untuk keluar negeri. Alif melihat benua Amerika di awan. Raja menata Eropa, Atang menggambar Afrika. Dulmajid dan Said melihat Indonesia. Sedang Baso, Asia. Man Jadda Wajada Alif bergeser : dari niat untuk keluar dari pondok Madani, menjadi bersungguh-sungguh mengejar mimpi.

Sabtu, 29 Desember 2012

Rahasia di dalam Bersin



Bismillaahirrohmaanirrohiim..
            Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
            Teman-teman semuana tentunya pernah bersin, kan? Pasti kalian juga tahu do’a ketika bersin, yaitu اَلْحَمْدُ لِله : “Segala puji hanya milik Allah” dan orang yang mendengarkannya diperintahkan untuk membalas dengan do’a يَرْحَمُكَ الله : “Semoga Allah merahmatimu”.
            Nah, tahukah kalian apa rahasia dari do’a tersebut? Kenapa kok, kita disuruh mengucapkan hamdalah setelah bersin, padahal kalimat itu untuk menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang kita peroleh? Teman-teman, selamatnya kita setelah bersin itulah yang dianggap sebagai nikmat yang sangat besar.
            Bersin adalah satu perkara yang penting dalam kehidupan manusia. Para dokter dulu menganggap bersin sebagai sebuah cahaya kehidupan. Mereka mempunyai sebuah ukuran derajat sehat, bahwa manusia tatkala tertimpa suatu penyakit yang berbahaya maka dia tidak mempunyai kemampuan untuk bersin. Dan mereka menganggap bersinnya seseorang yang sakit adalah sebuah kabar gembira kebaikan yang akan terjadi padanya, dan sebuah harapan baik akan jauhnya dia dari bahaya.
            Bersin adalah cara untuk pertahanan diri yang genius dan penting untuk menghilangkan segala masalah saluran pernapasan, baik dari segala macam kotoran atau dari segala macam benda asing yang masuk melalui lubang hidung. Ketika terjadi suatu sentuhan pada rambut-rambut hidung yang berasal dari benda asing, maka rambut-rambut tersebut akan memberi peringatan dengan kecepatan mencapai 100 km/jam, yaitu dengan memerintahkan untuk membuat penghalang dengan sebuah penarikan nafas, kemudian diikuti pengeluaran nafas yang keras melewati hidung untuk mengeluarkan bahaya yang masuk. Demikian juga sekaligus mencegahnya meneruskan jalan melewati saluran pernapasan menuju paru-paru.
            Rahasia di atas adalah untuk bersin normal. Adapun bersin sakit yang terjadi karena pilek, maka orang yang tertimpa tiap kali bersin membaca terus, akan tetapi bagi yang mendengar hendaknya mengucapkan pada yang pertama dan kedua saja. Dan setelah itu mendo’akan baginya kesehatan dengan ucapan عَافَاكَ الله : Semoga Allah menyehatkanmu.
            Semoga bermanfaat,
            Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.