Rabu, 03 Juni 2020

JERITAN KALBU

Saat terkuak dalam sanubari
Tetiba menjerit kalbu ini
Meraung lantang menyiksa
Berharap berakhir tanpa sia

Kurekatkan tengadah ini
Meraih bantuan dari Ilahi
Namun nyatanya noda hitam masih mengepul
Tak ingin berpisah selalu mengumpul

Nyatanya hidup tak selaras dengan asa
Selalu jadi kuncup penuh putus asa
Noda hitam mencekam bertuliskan dosa
Masih jadi hiasan yang dianggap biasa

Tingkah raga ini tak selalu lurus
Goyangan nafsu selalu berhembus
Titikan air pelupuk mata hanya kiasan
Seakan-akan ingin berbohong pada Tuhan

Perjalanan raga sangatlah panjang
Begitupun tak hentinya kelakuan terlarang
Hari demi hari sulit dijalani
Sebab hayat jauh dari Tuhan kini

Ulfah Aini
Purwokerto, 4 Februari 2019

SEPARUH KALBU

Seuntai perjalanan terhampar luas
Langkah demi langkah terlepas
Cita hidup di masa penuh rahasia
Kan jadi tolak ukur jalan berirama

Dinginnya malam penuh syahdu
Kutumpahkan berteman secangkir susu
Rasa yang menjerit dalam rongga
Kutahan sesak dalam dada

Secercah asa itu kian membara
Sebagai peredam pelipur lara
Namun masih saja kerikil hitam menukik
Coba menusuk dalam hati membidik

Kutanya pada kalbu sendu
Apakah kau patahan itu?
Terekam secuil memori bersamamu
Ketika kau datang melepas rindu

Terlalu dramatis memang kiranya
Hal yang tabu ternyata bisa nyata
Kini kalbu dalam jiwa ini
Semoga terus abadi menghuni

Ulfah Aini
Purbalingga, 30 Januari 2019

Sabtu, 30 Mei 2020

KELABU

Kau tegakkan raga sekuat tenaga
Kau tancapkan bara asa yang menelusup dalam rongga
Hati meradang, otak mengikis, kaki tanganpun menjerit
Meminta kepastian asa yang begitu rumit

Entah, asa itu datang berlalu lalang
Namun secepat kilat pergi menghilang
Dasar nasib jelek si pemuda pincang
Kaki tersayat tetap saja malang

Pelita Tuhan tak sempat kau rebut
Berkeliling meminta-minta secara urut
Dasar nasib jelek si pemuda jalanan
Tak bisa makan kau dustakan nikmat Tuhan

Asa tak sempat kau gapai
Pendidikan utama kau abai
Raga yang kau banggakan usai
Kini hanya tersisa rumbai-rumbai

Hayat sejati kau ubah menjadi kelabu
Ruang ekspresi kau tutup dengan topeng lusuhmu
Kau buat kelabu baju barumu
Tengadah tangan di setiap celah kaca pintu

Seruanmu tak lagi diragukan
Pandangan mata iba selalu jadi penantian
Terlalu harmonis jika semesta mengizinkan
Namun nyatanya hidupmu kelabu tanpa nyaman

Ulfah Aini
Purbalingga, 28 Januari 2019


Kamis, 12 Oktober 2017

Senyuman di Ujung Senja

         Secarik foto itu masih terpampang jelas ketika aku membuka Al-Qur’an hitam bermerek “Cordova” bergantungan “Hail to the Nature XII IPA” milikku. Foto itu kembali mengingatkanku pada kejadian 13 Juni 2015 lalu, saat aku harus menerima sebuah takdir yang sulit kucerna. Seseorang yang kusayangi telah pergi meninggalkan dunia yang fana ini untuk selamanya. Aku merasa saat itu duniaku seperti terjungkirbalik.
     Pagi itu mentari masih bersahabat denganku. Aku masih berjingkrak ria dengan kawan dan adik kelasku dengan jimbas, istilah arab dari senam. Setelah rasa lelah yang menggelayuti tubuhku, aku putuskan untuk tidur sejenak, menepis kelelahan. Tiba-tiba, terasa sentuhan tangan membangunkanku. Aku pun kaget. Ternyata itu Fina, temanku.
            “Fah, bangun. Kamu dipanggil ustadzah sekarang.” cetus Fina yang berkantung mata besar.
            “Iya, makasih ya, Fin.” ucapku seraya bergegas menuju kamar ustadzah di lantai 2.
            “Assalamu’alaikum, ustadzah. Ustadzah memanggil saya?” tanyaku sembari bertatap muka dengan Ustadzah Latifah.
            “Wa’alaikumussalam. Iya, Ulfah. Begini, tadi ibumu telfon, mengabarkan bahwa bapakmu dalam keadaan sakit. Jadi kamu harus pulang sekarang. Nanti, beberapa ustadz dan ustadzah akan ikut menjenguk ke Purbalingga.” jawab ustadzah.
            Mataku mulai terbelalak, air matapun tak bisa kubendungi, memaksaku untuk mengeluarkannya. Sempat terbesit tanya dalam pikiranku, “Sejak kapan bapak sakit-sakitan?”
            Aku pun menuruni tangga dengan perasaan bingung dan gelisah. Di depan kamarku yaitu kamar pengurus atau OPPMA sebutannya, tampak ketiga temanku menyapaku dan bertanya sebab sembabnya mataku.
            “Hei Ulfah, kamu kenapa? Gak biasanya matamu sembab gitu.” ledek Hana.
            “Aku takut, khawatir, bingung, gelisah. Pokoknya campur aduk perasaanku sekarang.” ketusku menjawab ledekan Hana.
            “Kenapa? Kenapa, Fah?” tanya Fina dengan kepo-nya.
            “Bapakku….” untuk kesekian kalinya air mataku menetes lagi.
            “Kenapa bapakmu?” rasa penasaran Fina bertambah.
            “Kata ustadzah bapakku sakit, lalu sekarang aku harus pulang. Tapi anehnya kenapa ustadz dan ustadzah juga ikut mengantarku? Kenapa juga harus dengan mobil pondok? Aku kan bisa pulang sendiri naik bus. Ini yang membuat pikiranku semakin runyam.” ucapku dengan nada sesenggukan karena tangisanku yang tak dapat kubendung lagi.
            Tiba-tiba Yuni, temanku, menyela, “Hah? Nakutin banget tuh. Jangan-jangan….”
            “Husttt… jangan begitu, Yun.” tegur Fina.
            “Udah, Fah. Sekarang positive thinking aja. Mungkin ada penyakit bapakmu yang belum kamu ketahui sampai mengharuskan kamu untuk pulang.” ucap Hana menenangkanku.
            “Tapi, bapak….” belum sampai aku meneruskan kata-kataku, muncul ustadzah yang memintaku untuk segera bersiap-siap.
            Sebelum berangkat, partnerku, Elsa, membantuku mengemasi beberapa baju untuk dibawa pulang ke rumah. Setelah semua selesai dikemas, aku beranjak menuju parkiran mobil sembari menunggu ustadz dan ustadzah yang masih bersiap-siap. Di dekatku terdengar suara,
            “Memang meninggalnya jam berapa mba?” hatiku mulai gelisah tak karuan, tapi aku mencoba selalu bepikir positif seperti yang dibilang Hana tadi di asrama.
            Perjalanan dari Temanggung menuju Purbalingga membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam. Tetapi, karena terjebak kemacetan, membuat perjalanan semakin lambat. Akhirnya, kami transit di sebuah rumah makan masakan padang di Kledung, Wonosobo. Hatiku mulai tenang, entah kenapa porsi makanku tidak seperti biasanya, bisa dikatakan sangat banyak.
            Saat mendengar percakapan ustadz dan ustadzah di dalam mobil, aku mulai terhibur, bisa tertawa, melupakan kesedihanku. Tetapi, saat lagu tentang ayah diputar berkali-kali, aku pun teringat kembali dengan sosok ayah. Apalagi setelah mobil beberapa kali melewati pemakaman, aku selalu membayangkan yang tidak-tidak. Untung aku duduk di kursi tengah pinggir kanan, sebelahku Ustadzah Ramini, Ustadzah Latifah, dan Ustadzah Arti. Bangku depan diisi oleh Ustadz Wardhani dan Ustadz Fadlil sebagai pengemudi. Sedangkan di belakang terisi Ustadz Naufal yang duduk menyendiri.
            Terdengar suara handphone milik Ustadzah Ramini.
            “Iya, Pak. Ini kami sudah sampai di Banjarnegara. Tadi sempat terjebak kemacetan di Pasar Kretek Wonosobo.”
            Hatiku semakin tak menentu. Rasa khawatir dan takut bercampur menjadi satu. Pikiranku semakin menjadi-menjadi, entah kemana arahnya. Sekilas tampak bayangan bapak menghampiriku dan tersenyum, kemudian pergi meninggalkanku dengan lambaian tangannya.
***
            Mobil melaju melewati plang besar bertuliskan “Kabupaten Purbalingga”, setelah sekian lama merasa penat karena perjalanan yang terbilang lumayan jauh ini, akhirnya aku bisa berjumpa kembali dengan cakrawala nan permai ini, Purbalingga Perwira, kota yang menjadi saksi sejarah kelahiranku 17 tahun silam.
            Setir mobil masih dikemudikan sesuai arahanku, karena akulah tour guide dalam perjalanan mulai dari saat kami menjumpai plang perbatasan Banjarnegara-Purbalingga hingga akhirnya sampai di rumahku.
            Dag…dig…dig…jantungku berdegup sangat kencang, tidak seperti biasanya. Tampak deretan mobil dan motor memenuhi pinggir jalan depan gang rumahku. Tubuhku mendadak lemas ketika kuterka bendera putih tertancap di depan gang rumahku. Pikiranku melayang entah kemana. Sontak kubuka pintu mobil dengan hati gelisah bercampur aduk. Kulihat om dan kakak iparku berlari mengarah ke mobil yang kutunggangi untuk menjemputku. Seketika wajahku pucat pasi dan lemas tak berdaya.
            “Mas, bapak kenapa?” tangisku tak tertahankan.
            “Udah, Fah. Sabar ya. Jangan nangis, kasihan bapak. Bapak udah tenang disana.” ucap Mas Tekad menenangkanku sembari menuntunku berjalan menuju rumah.
            “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un…Ya Allah, semoga khusnul khotimah.” ucapku sesenggukan.
            Dalam perjalanan menuju rumah, tampak banyak orang yang berdatangan, termasuk teman-temanku semasa SMP. Mulutku berucap tahlil tiada henti sampai akhirnya aku berjumpa dengan ibu dan kakak perempuanku. Tubuhku tak luput dari pelukan ibu dan kakak perempuanku.
            “Ya Allah, Bu…Bapak…Astaghfirullahal’adzim.”
            “Sabar ya, sayang. Bapak udah tenang disana, In Sya Allah. Jangan nangis, nanti bapak malah sedih. Ulfah harus kuat dan tegar ya, inilah takdir yang udah digariskan oleh Allah.” Sahut ibu dengan air matanya yang tertahan karena tak ingin terlihat sedih.
            “Bu, aku pengin nyolatin bapak. Aku wudlu dulu ya.” Ibu memandangku dan menghapus air mataku. Beliau menganggukan kepalanya, tanda mempersilahkanku.
            Suasana begitu haru ketika aku sholat di depan jenazah beliau, semua orang mengelilingiku. Begitupun ketika aku selesai sholat, teman-teman dekatku saat SMP menghampiri.
            “Ulfah sayang, semua takdir Allah pasti baik. Sabar ya, bapakmu baik-baik saja disana. Pasti ada hikmah di balik ini semua. Banyakin do’a untuk beliau.” kata Nindi.
            “Iya, Fah. Kita selalu ada di sampingmu kok buat support kamu. Semangat terus ya.” hibur Erin.
            Aku pun hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepala. Aku berpikir tak sia-sia aku mempunyai sahabat seperti mereka yang selalu ada dalam suka maupun duka, seperti saat sekarang ini.
            Jenazah bapak dibawa menuju pelataran rumah. Tampak banyak orang sudah berkerumun menunggu upacara pemakaman. Sepatah kata dilontarkan oleh ketua ta’mir Masjid Agung Darussalaam Purbalingga karena saat itu bapak masih menjabat sebagai wakil ketua ta’mir Masjid Agung. Kulihat para ‘alim ulama’ juga berada di kerumunan itu.
            Sebelum meninggal dunia, bapak terkenal sebagai tokoh agama dan guru yang kritis. Beliau mengisi pengajian ba’da maghrib pada malam Ahad di Masjid Agung. Tak hanya disitu, setiap harinya waktunya dipadati dengan mengisi pengajian di beberapa masjid. Beliau pun mengajar di SMP Negeri 1 Kemangkon sebagai guru PAI (Pendidikan Agama Islam) dan ketika itu beliau masih menjabat sebagai ketua MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) PAI Kabupaten Purbalingga, jadi tidak heran jika beliau disegani dan banyak yang melayat ketika beliau wafat.
            Jenazah dikebumikan di TPU Arsantaka tepat di belakang rumahku. Jadi, setiap saat aku bisa melihat makam beliau ketika rindu datang dengan tiba-tiba. Tetapi kali ini aku tak bisa mengikuti prosesi pemakaman beliau dikarenakan dua hal yang masih menjadi tanggungjawabku, yaitu karena aku belum menunaikan sholat ashar dan belum kutemui ustadz dan ustadzah.”
            “Ibu, nanti kalua ada ustadz dan ustadzah, bilang suruh nunggu Ulfah sebentar ya. Aku mau sholat ashar dulu.” ucapku pada ibu yang ketika itu sedang berbincang-bincang dengan beberapa tamu.
            “Iya, Nak. Udah sana, dah jam setengah lima, udah telat banget, ayo.” sahut ibu dengan raut muka yang masih menyimpan kesedihannya.
            Ketika aku selesai sholat, ternyata ustadz dan ustadzah menungguku bersama ibu di ruang tamu.
            “Mohon maaf, Ibu. Sebelumnya, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un. Kami selaku perwakilan dari PM Assalaam Temanggung turut berbela sungkawa atas meninggalnya bapak dari Ananda Ulfah. Semoga diterima amal perbuatannya dan khusnul khotimah. Kami berharap Ananda Ulfah dapat melanjutkan kembali sekolah di Assalaam.” jelas Ustadz Wardhani.
            “Saya berterimakasih sekali sudah mengantarkan anak saya ini pulang ke rumah. In Syaa Allah anak saya masih bersekolah di sana. Aamiin.” jawab ibu dengan tenang.
            Perbincangan yang lama telah usai, kini ustadz dan ustadzah berpamitan untuk kembali ke pondok, karena keesokan harinya akan ada agenda rihlah dari OPPMA (Organisasi Pelajar Pondok Modern Assalaam) angkatanku, termasuk aku di dalamnya sebagai salah satu panitianya. Lubuk hati paling dalamku seakan mengadu bahwa ada sedikit rasa penyesalan karena aku tidak bisa mengikuti agenda rihlah itu. Akan tetapi, aku tidak dapat menyalahi takdir yang sulit kuterima ini.
***
            Sejujurnya, aku belum tahu bagaimana dan sebab meninggalnya bapak. Lalu, aku tanyakan hal ini pada kakak perempuanku.
            “Mba, bapak meninggalnya kenapa?” tanyaku pada Mba Neni yang tengah duduk santai di teras rumah.
            “Gini, kamu tahu kan kalau bapak itu nggak punya riwayat penyakit dalam?” jawab Mba Neni.
            “Iya, Mba, terus kenapa?” tanyaku penasaran.
            “Bapak memang nggak sakit, beliau hanya pusing saja. Saat sholat subuh, beliau masih jadi imam di mushola, masih sarapan berdua sama ibu. Ketika beliau mau berangkat ke sekolah, tiba-tiba beliau merasa pusing, lalu dipijat ibu sampai bapak tertidur. Setelah kira-kira satu jam berlalu, ibu membangunkan bapak, tapi beliau tidak terbangun. Ibu yang biasa menangani orang sakaratul maut akhirnya memeriksa denyut jantung dan nafas bapak. Masih terasa semua. Akhirnya ibu memanggil Mas Anto tetangga kita untuk membawa bapak ke rumah sakit. Di sana bapak masih belum sadar. Tetapi, ketika ibu keluar dari ruangan bapak untuk menghubungi mba dan Mas Awal, bapak telah tiada. Kata Mas Anto, ketika bapak menghembuskan nafas terakhirnya beliau sempat tersenyum sebanyak dua kali dan wajahnya putih bersih seperti bayi yang baru lahir.” terang Mba Neni.
            “Alhamdulillah…semoga khusnul khotimah. Aamiin.” sahutku dengan perasaan lega.
            Entah apa yang kupikirkan setelahnya, aku sering murung dan menitikkan air mata dalam keheningan karena perasaan rinduku pada beliau hingga terkadang tugas-tugasku di pondok terbengkalai, bahkan saat ujianpun entah apa yang kupikirkan, kefokusan itu melayang. Tapi aku yakin, beliau sudah tenang di sana, meskipun awalnya aku masih belum bisa menerima karena beliau belum sempat maju ke depan panggung khutbah ta’aruf di sekolahku untuk menerima penghargaan siswa berprestasi angkatanku dan belum melihat persembahan piala kebangganku sebagai juara lomba matematika, seperti yang beliau harapkan.
Alhamdulillah, kata itu yang harus sering aku ucapkan, aku harus bersyukur karena aku pernah memiliki bapak yang tidak akan tergantikan oleh siapapun, yang selalu memberiku nasihat saat gerakku keliru, senantiasa menginspirasiku setiap waktu dan memberiku kenangan yang tak pernah kulupakan.
I miss you so much, Dad.

Rabu, 20 September 2017

Raja Hatiku

Untaian kata tak mampu gambarkan dirimu
Luasnya samudera tak sanggup lukiskan perjuanganmu
Fenomena hidup bagaikan sahabat untukmu
Air mata kepedihan tak pernah membanjiri pelupuk matamu

Hanya kau yang mengerti kerasnya hidup
Namun tak terpancar lelah di wajahmu
Untukku kau ikhlas gadaikan jiwa ragamu
Relakan bahagiamu, demi seukir tawa di wajahku

Ayah...begitu ku memanggilmu
Ini aku...permata hati yang merindu nasihatmu
Nasihat yang biasa terdengar kala pagi menyambutku

Inilah kenyataan yang kini menyelimuti
Namamu harum semerbak namun ragamu tak disini
Aku percaya itulah pertemuan dengan Kekasih yang kau nanti
Nikmat itu disambut penduduk langit dan bumi
Do'a pun mengalir deras iringi perjumpaan ini

Ayah...
Ragamu pergi namun tentangmu tetap hidup di benakku
Waktu pun mengajariku tegar hadapi takdir-Mu
Aku bangkit tuk kembali mengurai jejakku

Terimakasih, Ayah... kaulah raja hatiku...


Ucapan terimakasih untuk sahabatku tercinta, Meyrina Ika Faradita, yang telah bersusah payah menyusun puisi indah ini untukku. Jazaakillaah khoiron katsiiron wa Baarakallaahu fiik. 😘

Selasa, 19 September 2017

Muhasabah

Langkah kaki mulai bertapak
Di bayang hidup nestapa
Beribu ronta kuteriakkan
Seberapakah dosaku Tuhan?
Malam terasa sunyi senyap
Aku terhampar di setiap jengkal sajadah yang terhampar
Bertemu dengan-Mu raga ini berubah menjadi pemalu
Tanya hatiku, seberat apa amalku?

-UNN. 19 Sept '17. Purbalingga-

Senin, 05 Juni 2017

Serumit Sebuah Simpul

Roda kuputar berlawan arah
Tak semudah yang kukira
Rasa itu tetap singgah
Meski masa telah berubah
Ahh...degup jantung itu tetap terdengar
Nafas itu masih menghampiri
Bayangan itu kian menepi
Memasuki alam bawah sadarku kini
Berjuta rasa lain kutanyakan
Mengapa satu rasa itu datang sedang lainnya menghilang?

Kutatap cermin berdebu
Jemariku mulai merabanya
Lusuh terasa seketika kutiup
Bayangan itu muncul dalam cermin kerinduan
Sesosok raja hatiku tampak merintih
Seulas kisah kita terekam kembali
Memori itu mengecam kembali
Saat hati ini menciut
Saat hati ini penuh penyesalan
Saat hati ini tak berdaya

Terulang kembali...
Seketika kafan membalut tubuh sang raja
Lisanku kelu ragaku kaku
Timbunan air mata mendesakku ingin keluar
Aku tak sanggup lagi merasakan semua itu
Ingin rasanya kugantikan tubuhnya dengan tubuhku
Agar simpul senyum itu terurai lagi
Agar belaian itu terasa lagi
Agar petuah itu terucap lagi

Kuawali takbirotul Ikhrom
Kuakhiri salam
Bisikan dzikir ini selalu ada
Setelah mata ini memandangnya
Wajah berseri tersenyum bak jiwa pemberani
Mengingatkanku dalam sebuah petuah bijak
"Hidupilah hidup, jangan mau diperbudak hidup"

-UNN 06.06.17-

Kejadian di atas terjadi 2 tahun silam, Sabtu, 13 Juni 2015. Puisi di atas kupersembahkan untuk Raja Hatiku yang kini telah tersenyum di alam keabadian. Semoga Allah selalu melindunginya. Jujur, aku selalu merindukannya.

Senin, 20 Februari 2017

Coretan Malam

Aku. Sebulir insan dalam rangkakan kesunyian. Menangkap balutan senja cakrawala. Langkah awal tertetes air hujan. Lanjut melangkah bersama kerikil kecil yang tajam. Ah, sakit rasanya. Kutemui seekor kuda meringkik keras tanda akan melaju. Tunggangi kuda tanpa ragu melewati hutan belantara.  Kudapati serigala hitam mengejar kudaku. Aha!  Aku ingat. Panahku menancap tepat di kakinya. Jalan semakin terjal. Kudaku meringkih kesakitan. Kini aku berkelana sendiri. Kulihat sungai membentang di depanku. Aku bersiap. Kuselami sungai demi mencapai impianku. Istana impianku. Istana kehidupan abadi. Istana Tuhan Sang Pencipta alam semesta.

-Purbalingga,  UNN-

Sabtu, 06 September 2014

Penjaraku Istanaku

Hai, sobat! Apa kabarnya nih? Tau gak sih, sekarang aku berada di tempat yang mungkin sebagian orang berfikir berbeda denganku. Inilah penjara suci. Penjara tempat dimana anak-anak menimba ilmu agama dan ilmu umum. Semua seimbang. Bisa jadi ini kali kedua aku menempati penjara suci. Ya, memang! Dulu, aku pernah menjejaki tanah Jawa bagian timur, tepatnya di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada yang tau kah? Ya benar, Ngawi lebih tepatnya. Pasti tau kan dimana tempatnya? Mantingan!
Disanalah pengalaman pertamaku berada di penjara suci. Penjara suci yang mungkin bisa dikatakan ketat. Hari-harinya sibuuukkk terus. Bagaimana tidak? Dari mulai bangun pagi sampai tidur malam dipenuhi dengan kegiatan yang cukup melelahkan. Sulit untuk menemukan waktu luang.
Dan ini ceritaku sekarang. Sekarang aku berada di tempat di pinggir Jalan Raya Secang. apa itu? Tepatnya di Kubah Emas alias Islamic Boarding School of Assalaam ..(hehehe....)
Ya, masih sama seperti dulu. Hanya saja sedikit berbeda anaknya juga fasilitasnya.
Dari bangun tidur sampai tidur lagi nggak ada kata nggak ngantri. Mau mandi ngantri, jajan ngantri, makan ngantri, dan semuanya serba ngantri. Tidurnya malam, banyak kegiatan, mufrodzat lah, muhadhoroh lah, tapaksuci lah, conversation lah, tausiyah lah, senam pagi lah, pramuka lah, kayak dikejar-kejar waktu terus. Jadi aku harus benar-benar membagi waktuku dengan baik. Tapi, ada asyiknya lho! Teman kita bertambah banyak, kebersamaan menjadi kan semuanya ringan. Inilah ceritaku, apa ceritamu?

Kamis, 04 September 2014

Pilu

Indah betapa 
Syahdu terasa yg berlalu 
Pilu menyisa mengalunkan tangis 
Kini sendiri di puing-puing kehancuran 

Lagu berubah menjadi sedih 
Melayu mendayu kembali merayu 
Semenjak kehilangan paru 
Dimana perhatian itu kini? 

Bayang-bayang tinggal menghiasi 
Hilang sudah pelangi panjang membentang 
Rasa sekejap saja 
Hati ini bagai di jemput di bawa ke neraka 

Apa yg menelusuri dadamu 
Tinggallah jiwa ini dlm kegelapan 
Prahara datang, engkau hilang tanpa jejak 
Hanya kenangan dan air mata

Minggu, 30 Desember 2012

Sinopsis Novel Negeri 5 Menara


Pertengahan tahun 1988 Alif akan lulus SMP. Bersama sahabatnya, Randai, mereka berharap bisa masuk SMA terkenal di Bukit Tinggi, lalu lanjut kuliah di ITB. Namun Amaknya menginginkan Alif untuk masuk ke Pondok Madani, sebuah pesantren di sudut Ponorogo, Jawa Timur. Alif memberontak tapi akhirnya memenuhi pinta orangtuanya walau setengah hati.

Ketika tiba di Pondok Madani, dilihatnya tempat itu ‘kampungan’ dan mirip penjara karena peraturan yang ketat dan keharusan ikut kelas adaptasi setahun. Alif sering menyendiri. Seiring berjalannya waktu, Alif mulai bersahabat dengan teman-teman satu kamarnya, yaitu Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Madura. Mereka berenam selalu berkumpul di menara masjid dan menamakan diri mereka Sahibul Menara alias para pemilik menara.

Suasana kian menghangat di kelas pertama, saat Alif disentak oleh teriakan penuh semangat dari sang Ustadz: Man Jadda Wajada! Arti kata itu adalah: Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. “Mantra” ini lah yang menambah motivasi keenam anak itu bermimpi. Suatu sore, para Sahibul menara menatap awan dan bercita-cita untuk keluar negeri. Alif melihat benua Amerika di awan. Raja menata Eropa, Atang menggambar Afrika. Dulmajid dan Said melihat Indonesia. Sedang Baso, Asia. Man Jadda Wajada Alif bergeser : dari niat untuk keluar dari pondok Madani, menjadi bersungguh-sungguh mengejar mimpi.

Sabtu, 29 Desember 2012

Rahasia di dalam Bersin



Bismillaahirrohmaanirrohiim..
            Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
            Teman-teman semuana tentunya pernah bersin, kan? Pasti kalian juga tahu do’a ketika bersin, yaitu اَلْحَمْدُ لِله : “Segala puji hanya milik Allah” dan orang yang mendengarkannya diperintahkan untuk membalas dengan do’a يَرْحَمُكَ الله : “Semoga Allah merahmatimu”.
            Nah, tahukah kalian apa rahasia dari do’a tersebut? Kenapa kok, kita disuruh mengucapkan hamdalah setelah bersin, padahal kalimat itu untuk menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang kita peroleh? Teman-teman, selamatnya kita setelah bersin itulah yang dianggap sebagai nikmat yang sangat besar.
            Bersin adalah satu perkara yang penting dalam kehidupan manusia. Para dokter dulu menganggap bersin sebagai sebuah cahaya kehidupan. Mereka mempunyai sebuah ukuran derajat sehat, bahwa manusia tatkala tertimpa suatu penyakit yang berbahaya maka dia tidak mempunyai kemampuan untuk bersin. Dan mereka menganggap bersinnya seseorang yang sakit adalah sebuah kabar gembira kebaikan yang akan terjadi padanya, dan sebuah harapan baik akan jauhnya dia dari bahaya.
            Bersin adalah cara untuk pertahanan diri yang genius dan penting untuk menghilangkan segala masalah saluran pernapasan, baik dari segala macam kotoran atau dari segala macam benda asing yang masuk melalui lubang hidung. Ketika terjadi suatu sentuhan pada rambut-rambut hidung yang berasal dari benda asing, maka rambut-rambut tersebut akan memberi peringatan dengan kecepatan mencapai 100 km/jam, yaitu dengan memerintahkan untuk membuat penghalang dengan sebuah penarikan nafas, kemudian diikuti pengeluaran nafas yang keras melewati hidung untuk mengeluarkan bahaya yang masuk. Demikian juga sekaligus mencegahnya meneruskan jalan melewati saluran pernapasan menuju paru-paru.
            Rahasia di atas adalah untuk bersin normal. Adapun bersin sakit yang terjadi karena pilek, maka orang yang tertimpa tiap kali bersin membaca terus, akan tetapi bagi yang mendengar hendaknya mengucapkan pada yang pertama dan kedua saja. Dan setelah itu mendo’akan baginya kesehatan dengan ucapan عَافَاكَ الله : Semoga Allah menyehatkanmu.
            Semoga bermanfaat,
            Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Sabtu, 10 November 2012

Mimpi yang Tertunda (My Story)


Setiap manusia mempunyai mimpi, begitupun Fahira Nurul Haura’ yang akrab dipanggil Fira, kini sedang duduk di bangku SD kelas 6. Fira anak ketiga dari tiga bersaudara. Dia mempunyai mimpi besar yaitu menjadi seorang guru Bahasa Arab dan berimpian meluncur ke Mesir menuju Kairo tepatnya ke Universitas Al-Azhar, Universitas tertua  dunia. Dia ingin menggapai mimpi itu melalui jalur pondok.
            “Ibu, Ayah, Fira boleh mondok ya?” tanya Fira.                                         
            “Yo karepmu, asalkan kamu betah saja di sana.” jawab Ibu.
            “Bener ndok kata Ibumu. Lagipula kamu kan anak mbontot. Takutnya kamu ndak betah di sana.” sahut Ayah.
            “Insya Allah, Fira betah, Bu. Fira kan kepengin kayak Mas Sesha kuliah di Al-Azhar University of Cairo.” jawabnya dengan mantap.
            “Yowes, Ibu sama Ayah ndak mau maksa, karena toh itu kemauanmu sendiri dan yang menjalaninya nanti yo kamu sendiri.” sahut Ibu.
            “Lalu kapan Fira mulai mondok di Pondok Gontor, Bu?” tanya Fira.
            “Lek  habis Ujian gimana?” sahut Ayah.
            “Ide bagus, Ayah.”  jawab Fira dengan wajah gembira.
Hari-hari terus berjalan, hingga akhirnya Ujian telah selesai dan saatnya pengumuman hasil kelulusan. Betapa senangnya Fira mendapatkan peringkat 3 se-SDnya. Dia langsung bersujud mengucapkan syukur kepada-Nya.
“Alhamdulillah... Syukron Yaa Robbii..” ucap Fira.
Ia segera pulang dengan membawa senyum kegembiraan.
“Saiki, Fira mau minta janji Ayah sama Ibu kalau habis Ujian, Fira mau  mulai mondok  di Gontor! Pokoknya harus minggu ini Fira ke Gontor” pinta Fira.
            “Nanti dulu Ndok, lihat kondisi Ayahmu, beliau sedang sakit. Tunggu sampai beliau sembuh dulu, baru kita sekeluarga berangkat ke Ngawi ” sahut Ibu.
            “Iya, Fir. Jangan egois seperti itu sayang. Itu ndak baik. Lagipula Gontor itu jauh di Ngawi, Fir. Purbalingga-Ngawi butuh waktu 8-9 jam. Urungkan dulu niatmu. Pikirkan dulu matang-matang, siapkan dulu mentalmu. Jangan sampai kayak adiknya temen mbak yang ndak betah di sana, kur pirang dina thok nang kana cah.” sahut Mbak  Isna, salah satu kakak Fira.
            “Pokoknya harus minggu ini..!!” pinta Fira dengan sedikit membentak. Matanya mulai mengeluarkan air mata dan langsung masuk ke dalam kamarnya dengan menggebrak  pintu kamar yang akan dikuncinya dari dalam.
            Dengan air mata yang masih membanjiri pelupuk matanya, Fira segera mencari buku-buku tentang pondok yang akan dia singgahi itu, Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2 Ngawi, Jawa Timur termasuk brosur pendaftaran yang selalu berada di dalam tasnya untuk mengurangi kesedihannya.
            Sementara di luar, Ibu, Ayah dan kedua kakak Fira berdiskusi masalah Fira tadi. Akhirnya mereka sepakat untuk tetap mengantarkan Fira ke PMDGP 2 pada hari kamis malam, karena jika mereka berangkat malam, maka jalanan masih sepi dan tidak rawan terjadi macet, sampainya juga pagi hari, matahari masih belum menampakkan sinarnya.
            “Keluar sebentar, Ndok.” pinta kakak pertama Fira, Mas Sofyan namanya, tapi lebih akrab dipanggil Mas Iyan. Dengan perasaan masih emosi, Fira keluar dari kamarnya.
            Ayah memulai pembicaraan tentang rencana untuk mengantar Fira di hari kamis mendatang. Tanpa basa-basi, saat Fira mendengar ucapan ayahnya bahwa ia akan diantar ke sekolah barunya hari kamis mendatang, ia langsung memeluk Ibundanya dan mencium pipinya. “Terimakasih Yaa Allah, Engkau telah mengabulkan do’aku.” ucapnya dalam hati.
            Kamis di pagi harinya, Fira dan Mbak Isna mempersiapkan segala kebutuhan yang akan dibawa ke pondok. Mulai dari 4 stel pakaian dan rok panjang, disana boleh memakai celana panjang bukan jeans atau sejenisnya jika pada waktu-waktu tertentu saja, itu juga hanya sekali-dua kali memakainya, kecuali pakaian olahraga yang bawahannya memakai celana panjang. Kemudian, Fira juga menyiapkan peralatan mandi, disana dia harus mandiri, mencuci pakaian, peralatan makan harus sendiri. Sampai terakhir saat Mbak Isna beranjak pergi ke dapur, ia tak lupa menyelipkan foto Mbak Isna dan Ibunya.
            Malam harinya, sekitar pukul 22.00 WIB, Fira dan keluarganya berangkat menuju Ngawi dengan menggunakan mobil milik salah satu sanak saudara Ayah. Di perjalanan, yang ada Fira hanya bermain terus-menerus dengan Mbak Isna hingga mereka berdua akhirnya terlelap tidur terhipnotis angin malam yang memang sedang dingin-dinginnya.
***
            Esok harinya, mereka rehat sebentar untuk menunaikan sholat Shubuh di sebuah rumah makan tak jauh dari pondok gontor, hanya beberapa meter saja, sekalian juga mandi dan makan di sana.
            Sampai di pondok, Fira kagum dengan pondok barunya yang akan dia tempati, “Subhanallah..” dalam hatinya. Di kejauhan terdengar suara anak bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Arab. “Sobaakhul khoir, yaa Shodiiqoh..”, “Sobaakhunnuur..”, “Sur’ah ilal fashli..!!”, “Na’am..”. Di Pondok Gontor setiap 10 kamar membentuk satu rayon. Rayon di sana bermacam-macam nama, yaitu ada rayon Damaskus, rayon Yerussalem, rayon Makkah, rayon Madinah, rayon Beirut, rayon Iskandaria, dan masih ada lagi yang lain. Fira melihat semua itu seperti surga dunia yang baru pernah dijumpainya. Ia bertemu dengan teman baru saat pendaftaran.
            “Kenalkan, namaku Fahira Nurul Haura’ dari Purbalingga, Jawa Tengah. Kamu boleh panggil aku Fira. Nama kamu siapa?” Fira mencoba memperkenalkan diri.
            “Namaku Nur Fitria Hidayati, panggil saja aku Fitri. Aku dari Palembang, Sumatera Selatan.” jawab Fitri. Mereka berdua mulai akrab.
Malam pun tiba, saatnya tes masuk pondok. Fira sedikit gugup menghadapinya. Tes itu terdiri dari pelajaran matematika, imla’/dikte menulis arab, pengetahuan agama, dan masih banyak lagi. Ada juga tes sholat dan membaca Al-Qur’an. Fira yang sudah khatam beberapa kali harus mengulang di Iqro’ 6 karena saat membaca Al-Qur’an, nafasnya masih kurang panjang. Pengumuman tes akan menentukan kelas dan akan ditempelkan esok paginya di Mading.
Fira mendapat kamar 6 rayon Yerussalem yang sama dengan Fitri. Sebelum meninggalkan Fira, Ibu dan Mbak Isna sempat merapikan barang-barang Fira di sebuah kamar seukuran ruangan kelas yang berisi sekitar 15 orang. Mereka tidur dengan kasur lantai dan mempunyai sebuah lemari yang terletak di bagian belakang tempat tidur masing-masing santriwati. Waktu untuk Ibu dan Mbak Isna meninggalkan Fira pun tiba, Fira berusaha tabah dan tetap tersenyum walaupun matanya sudah terlihat memerah. Saat perpisahan itu, Fira hanya mencium tangan Ibu dan Mbak Isna, karena laki-laki dilarang masuk ke lingkungan rayon santriwati.
“Ibu, Mbak Isna, do’akan Fira sehat selalu di sini ya.” terang Fira.
“Insya Allah. Masih ada Allah dan teman-temanmu disini kan.” sahut Ibu.
“Nggih, Bu. Fira pamit, Mbak, Bu.”
Dari balik pintu kamar, Fira mengintip pergerakan Ibu dan Mbak Isna sampai tidak terlihat lagi. Air matanya mulai menetes perlahan, hatinya sakit, serasa diiris sebilah pisau. Tapi ia harus tabah, karena itu adalah pilihan dia sendiri, demi masa depan yang lebih cerah. Di kamarnya, ia bersebelahan tempat tidur dengan Fitri.
***
Esok harinya, Fira bangun untuk sholat Shubuh berjama’ah di lapangan, tepatnya di halaman depan rayon Damaskus. Setelah itu, Fira mengantri untuk mandi pagi di kamar mandi yang letaknya di belakang setiap rayon. Setiap satu bak air digunakan untuk beberapa kamar mandi, jadi kalau bak air untuk mandi dan mencuci itu kotor ya wajar, karena pastinya sudah banyak yang memakainya. Tanah di Ngawi kering sehingga air di Ngawi juga terasa tidak seperti air yang normal, berbeda jauh dengan air di Purbalingga.
“Sur’ah.. Sur’ah.. Cepat.. Cepat.. Kamissaa’atul aan! Sudah jam berapa sekarang!” teriak seorang santriwati dengan menggedor-nggedor pintu salah satu kamar mandi. Suasana di sekitar kamar mandi mulai ricuh. Kesabaran mereka mulai memuncak. Fira tetap bersabar, hingga tersisa hanya beberapa santriwati saja.
Setelah mandi, dia terkejut, karena hanya tinggal dia seorang yang berada di kamar mandi. Fira pergi ke kamarnya dan dilihatnya teman-temannya sedang memakai sepatu mereka. Fira membereskan buku-bukunya dan segera berangkat menuju kelas. Fira mendapatkan kelas F3, kelas urutan unggulan ke-3, karena santriwati pandai yang mengikuti tes kemarin berada di kelas F1. Sesampainya di depan kelas-kelas santriwati, Fira tampak bingung, karena ia belum tau dimana kelasnya berada. Fira segera bertanya dengan Ustadzah Yohanna yang sedang berjalan mengelilingi kelas-kelas.
“Assalamu’alaikum Ustadzah, ‘afwan, ana mau bertanya, kelas F3 ada dimana ya?” tanya Fira.
“Wa’alaikumussalam Warohmatulloh, oh iya nak. Di sebelah sana.” jawab Ustadzah Yohanna dengan menunjuk sebuah ruang kelas yang dekat dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS).
***
            Hari mulai berlalu begitu lambatnya menurut Fira. Karena kesehariannya, dia hanya termenung, menangis, dan sesekali menelpon ke orang rumah di Purbalingga dengan pergi ke wartel pondok. Saat itu tiga hari Fira berada di sana. Sholat Shubuh kan tiba. Fira mengantri mengambil air wudhu. Sholat Shubuh berjama’ah dilakukan seperti biasa di halaman rayon Damaskus dengan diawali puji-pujian. “Ilahiilas tulilfirdaus siahlaan, walaa aqwaa ‘alannaaril jahiimi..”. Sholat Shubuh pun tiba, semua santriwati berbondong-bondong menuju halaman rayon Damaskus. Kejadian tidak terduga pun terjadi saat pertengahan sholat. Fitri yang berada di depanku, tiba-tiba melemas dan jatuh pingsan, tetapi kami semua tetap melaksanakan sholat hingga selesai.
            “Walah, iki sopo, soko rayon lan kamar ndi?” sahut seorang Ukhti (sahutan kepada anak yang tidak lulus pada tahun sebelumnya/berarti “kakak perempuanku”) sembari menolong Fitri.
            “Ini sohib satu kamar ana di rayon Yerus 6, Ukh. ‘Afwan sudah merepotkan. Syukron sebelumnya.” balas Fira sembari memapah Fitri menuju kamar. Fira tidak tega meninggalkan Fitri sendiri di kamar, tetapi ia harus segera masuk kelas. Akhirnya Fira hanya mengantarkan sarapan dari kantin santriwati untuk Fitri di kamar.
***
            Pagi itu, hari kelima Fira berada di PMDGP 2, tepatnya di hari Jum’at. Santriwati rayon Yerussalem berbondong-bondong keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian pondok berwarna merah muda yang di bagian belakangnya bertuliskan “PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR PUTRI” untuk menerima mufrodat (kosakata) baru. Di depan rayon Yerussalem, para santriwati telah bersiap-siap membentuk dua barisan berhadap-hadapan satu sama lain. “Khammaamun artinya kamar mandi.. Dalwun artinya ember.. Baabun artinya pintu.. Mirkhaadun artinya WC/Toilet.. ” Ustadzah mulai memberikan mufrodatnya.
            Setelah belajar mufrodat baru, semua santriwati dari semua rayon melakukan SKJ (Senam Kesehatan Jasmani) di lapangan pondok. Semua tampak sudah bisa melakukan SKJ tersebut, hanya beberapa saja yang belum bisa, mungkin saat SD/MI dulu sudah pernah diajarkan oleh guru penjas mereka termasuk juga Fira, ia sudah mahir bergeraknya, karena saat di SD dulu SKJ masuk ke dalam ujian prakteknya.
            SKJ selesai, kini semua santriwati lari berurutan mengelilingi area pondok. Suasana menjadi ramai seusai berlari. Mereka semua berkumpul kembali di halaman kantor Ustadzah-Ustadzah yang luas. Hal yang ditunggu-tunggu akhirnya akan datang, yaitu pengumuman RAYON TERBERSIH dan RAYON TERKOTOR yang diumumkan setiap minggu. Semua santriwati merasa deg-degan dengan pengumuman yang akan disampaikan.
            “Sebuah plang bertuliskan “RAYON TERBERSIH” akan diberikan kepada rayon..............YERUSSALEM........!!!!!!” teriak Ustadzah.
            “Alhamdulillaahirobbil’aalamiin.....Syukron Yaa Allah.” teriak para santriwati asal rayon Yerussalem.
            “Dan sebuah plang bertuliskan “RAYON TERKOTOR” akan diberikan kepada rayon..............mana ayo?” tanya Ustadzah.
            “Damaskus..!! Damaskus..!! Damaskus, Ustadzah..!!” teriak seorang santriwati asal rayon Damaskus.
            “Benar.. rayon Damaskus... Kalian itu seharusnya selalu menjaga kebersihan rayon, ingat annadzhofatu minal iiman (kebersihan sebagian dari iman). Anggap saja kamar yang kalian tempati sebagai kamar rumah kalian, dan kamar yang lain dalam satu rayon sebagai tetangga-tetangga kalian, halaman rayon sebagai halaman rumah kalian yang mesti dijaga kebersihannya agar kalian tetap sehat dan nyaman di rayon Damaskus. Kalian juga harus pintar-pintar bekerja sama saling membantu antar teman jika mereka membutuhkan, ini tidak hanya untuk rayon Damaskus saja, tetapi juga untuk rayon Yerussalem, Makkah, Madinah, Beirut, Iskandaria, dan yang lainnya. Fahimtum? (kalian faham)?” jelas Ustadzah Qonnita.
            “Na’am, fahimna (Ya, kami faham).” jawab santriwati dengan serentak.
            “Ayo sekarang kalian lakukan Jum’at bersih membersihkan rayon kalian masing-masing.” seru Ustadzah Amalia.
            Fira dan teman-teman segera masuk ke kamar.
            “Putri dan Nawar! Kalian bertugas membersihkan di dalam kamar ini dan yang lain membersihkan kamar mandi.” titah Ustadzah.
            “Baik, siap Ustadzah.” jawab Putri dan Nawar hampir bersamaan.
            “Yah, Ustadzah.” sesal salah satu santriwati, Mayang.
            Di dalam kamar mandi, yang ada kami hanya terkejut melihat sesuatu yang ada di dalam bak air yang panjang itu.
            “Yaa Allah.. Kok bak mandi isinya kayak gini ya? Kada etis pisan (tidak sopan sekali.” sahut Muthia, seorang santriwati yang berasal dari Kalimantan Selatan.
            “Na’am, haadzihii najis (ya, ini najis). Coba Fitri, anti (kamu perempuan) cari gantungan baju yang sudah ndak dipakai, juga untuk yang lain, siapa yang berani masuk ke dalam bak dengan ana untuk membersihkan bak?” kata Fira.
            “O.K. my bestfriend.” jawab Fitri dengan senyumannya.
            “Ana mau Fira.” sahut Mayang dan Putri.
            Selang waktu kemudian, tiba-tiba Mbak Isna berada di belakang Fira.
            “Fira...” suara Mbak Isna.
“Mbak Isnaaa... Fira kangen..” sahut Fira dengan tetes air mata yang mengalir kian deras.
“Mbak Isna juga kangen. Ndang ke depan rayon. Ibu sudah disana.” pinta Mba Isna.
Tidak lama kemudian, Fira bertemu dengan Ibundanya di halaman rayon.
“Firaa... Ibu kangen sama Fira.. Jangan nangis terus sayang, Ibu sudah di sini. Fira betah apa ndak? Apa Fira mau pulang saja?” kata Ibu.
“Fira sudah lumayan betah bu di sini, tapi menurut ibu bagaimana seharusnya? Kalau Fira disuruh pulang, ya Fira mau-mau saja. Asalkan nanti masih ada SMP/MTs yang masih mau menerima Fira. Fira belum kerasan sama airnya, Bu. Sikat gigi saja Fira harus pakai air minum. Jadi satu hari Fira bisa menghabiskan 1,5 liter buat minum sama gosok gigi, Bu.”
“Sudah Fira pulang saja ya. Ibu belum tega meninggalkanmu di sini sendirian. Sementara saudaramu, mba Diana, kan ada di Gontor 3. Nanti kalau lulus SMP mungkin Fira sudah semakin dewasa dan mandiri. Nanti baru masuk pondok lagi ya.” pinta Ibu.
“Baik, Bu. Fira akan menuruti kata Ibu saja. Maaf ya, Bu. Fira sudah mengkhawatirkan Ibu. Maaf juga sewaktu itu, saat Fira ngotot ingin pergi kesini.” sesal Fira dengan tangisannya yang sudah tidak bisa ditutup-tutupi.
Di dalam kamar Yerussalem 6 berisi suasana haru.
“Fira, anti mau ngapain?” tanya Fitri.
“Ana mau pulang.” jawab Fira.
“Pulang untuk selamanya?” tanya Fitri lagi.
“Na’am, Ma’annajah fil ma’had! Man Jadda Wajada (Ya, semoga sukses di dalam pondok! Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil)” sahut Fira.
Berlinanglah air mata Fitri dan teman-teman sekamar yang lainnya. Ibu dan Mbak Isna mulai mengemas-ngemasi barang-barang Fira.
Kini mimpi Fira telah tertunda. Ia kini bersekolah di sebuah SMP yang dekat dengan rumahnya. Fira telah belajar dari pengalaman yang Tuhan berikan kepadanya, pengalaman yang mungkin tidak akan dilupakannya karena pengalaman itu sangat berharga dan akan menjadi motivasinya untuk hidup ke depan dengan lebih baik. Ia juga akan bersungguh-sungguh menyelesaikan sekolah di SMPnya hingga lulus dan ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan memasuki pondok yang berbeda dengan sebelumnya dan ia tidak mau kejadian serupa terulang kembali di pondok selanjutnya. Fira ingin mencapai cita-cita tingginya itu. Fira mempunyai motivasi yang akan ia tanamkan dalam kehidupannya, karena semangat Man Jadda Wajada! Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil!